Abdul Qadir Jaelani
Sosial di Maroko
Tanah Maroko telah
menjadi Islam lebih dari 13 abad lalu. Kitab
Al-Jurumiah dan Ibnu Batutah berasal dari
sini. Negeri maghribi (bahasa Arab: barat), itulah
julukan Maroko. Negeri yang terletak di
Afrika ini memang berada paling pojok di benua hitam itu, berbatasan langsung dengan samudera
atlantik. Penyebutan Maghribi berdasar pada paradigma Arab, karena Maroko termasuk daerah Islam
Afrika yang beretnis mayoritas Arab sebagaimana
Mesir, Libya, dan Aljazair. Orang Turki mengenal Maroko dengan nama Fez, sementara orang
Persia mengenalnya dengan nama ‘Marrakech’ yang berarti Tanah Tuhan. Dalam dunia Islam,
Maroko adalah sosok penting. Negeri ini menjadi gerbang penyebaran Islam ke Eropa lewat Spanyol-
negara yang tepat berada di atas Maroko. Kita tentu mengenal ekspansi yang dilakukan
‘Thariq Bin Ziyad’ ke tanah ‘Raul.
Gonzalez itu dalam sebuah peristiwa heroik yang
dikenang sejarah. Waktu itu, Thariq membakar kapal-kapal pasukannya sendiri
sehabis mendarat di Spanyol guna menundukkan penguasa yang lalim. Itulah cara
Thariq membangkitkan patriotisme tentaranya, seraya menyiratkan perkataan bahwa
tak ada jalan pulang dalam jihad selain memenangkan pertempuran. Pasukan Islam
terbakar semangatnya hingga pertempuran bisa mereka menangkan. Untuk mengenang
peristiwa itu, bukit di daratan Spanyol dimana Thariq mendarat dinamai Jabal
Thariq- yang dalam logat Eropa menjadi Gibraltar. Bagi Muslim Indonesia, Maroko
setidaknya dikenal melalui dua nama: Kitab ‘Al-Jurumiah’ dan ‘Ibnu Batutah’.
Yang pertama tentulah tidak asing bagi dunia pesantren di Indonesia karena
kitab ‘Al-Jurumiah’yang berisi kaidah dasar tata bahasa Arab (ilmu Nahyu)
diajarkan turun-temurun sejak dahulu. Kitab tipis yang menjadi hafalan wajib
santri- santri pemula itu merupakan karangan seorang ulama Maroko bernama
‘Muhammad Shonhaji. Sedang Ibnu Batutah adalah pengembara sekaligus sosiolog
muslim kelas satu yang juga berasal dari Maroko. Di era modern sekarang,
Maroko, yang memberi fasilitas bebas visa bagi warga Indonesia, kita kenal lewat
dunia pemikiran Islam melalui ‘Fatima Mernissi’ di bidang kajian perempuan dan
‘Abed Al-Jabiri’ di bidang tradisi Islam (‘turats’) dan kemodernan. Hal ini
menjadi bukti bahwa Maroko memiliki tradisi ilmiah yang baik. Ini tentu
sangatlah positif karena tradisi itu mendongkrak kemajuan Islam secara umum.
Dari 35 juta penduduk Maroko, 99 persennya adalah muslim. Gudang Ulama
Satu lagi kekhasan Maroko yang lain
adalah Tarekat Tijaniah yang didirikan ‘Syaikh Ahmad Tijani’. Ia merupakan
salah seorang sufi asal Maroko yang makamnya terletak di kota Fes. Tarekat ini
telah menyebar ke dunia, termasuk Indonesia. Syaikh Ahmad Tijani, konon,
mendapat bimbingan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Jejak keilmuan di Maroko
juga ada pada diri Ibnu Al- Arabi, ahli fiqih terkemuka pada zamannya, yang
terkenal dengan kitabnya ‘Ahkam Al-Quran’. Saat ini, kitab ‘Ahkam Al-Quran’
menjadi salah satu rujukan terpenting para mahasiswa pengkaji Ulumul Quran dan
Fiqh. Juga ada ‘Imam As- Sholih Abu Zaid bin Abdurrahman bin Ali bin Sholih
Al-Makudy’ atau dikenal dengan Imam Al- Makudy, pengarang kitab ‘Al-Makudy’,
syarah dari ‘Khaisyah
Ibnu Hamdun’. Beliaulah ulama pertama yang menulis syarah kitab Alfiyahnya Ibnu
Malik. Catatan ilmu ini berjalan seiring dengan gairah keberaagamaan masyarakat
Maroko yang sangat baik, apalagi jika dibandingkan dengan Tunisia dan Aljazair,
dua negara tetangga yang menganut sekularisme. Masyarakat Maroko dapat
mengekspresikan keberaagamaannya dengan tenang, karena Raja Maroko menjamin
itu. Beda sekali dengan Tunisia dan Aljazair, dua negara Islam yang justru
takut dengan keberislaman warganya. Di Rabat, ibukota Maroko, biasa ditemui
orang shalat di tengah ruangan terbuka, seperti di taman dengan beralaskan
rumput. Muslimah Maroko juga sebagian besar mengenakan jilbab hingga suasana
islami sejuk terasa. Di dalam angkutan umum banyak pula ditemui orang bersantai
sambil membaca Al-Qur’an.
Wakil Presiden ‘Yusuf
Kalla’ memiliki pengalaman yang membuktikan bahwa orang Maroko memang taat
menjalankan ibadah. Ceritanya, seperti dikutip kantor berita Antara’, saat
mengunjungi Madrid, Spanyol, dalam lawatan ke Amerika Serikat ia mencari kedah
kopi untuk melepas lelah bersama rombongan. Kebetulan saat itu sore hari di
bulan Ramadhan. Setiba di kafe, rombongan Wapres dilayani seorang pelayan asal
Maroko, bernama Hamad. Singkat cerita, mengetahui Wapres seorang Muslim, Hamad
mengomel dan bertanya, “kenapa tidak berpuasa?’ Meskipun dijelaskan bahwa
rombongan tak berpuasa karena sedang menjadi musafir, Hamad tetap saja menasihati.
Bagi Hamad, alasan menjadi musafir karena sedang dalam perjalanan dari Chicago
ke Madrid bukanlah alasan yang logis untuk tidak berpuasa. Bagi Hamad,
perjalanan menggunakan pesawat terbang, yang hanya duduk saja, bukan alasan
yang tepat, karena tak ada kesulitan apa pun. Setelah sedikit berdebat,
akhirnya rombongan Wapres mendapat kopi setelah lebih dahulu berjanji bahwa
besok hari akan berpuasa. Demikianlah, Islam seperti memeluk erat warga Maroko
karena anak-anak muda Maroko juga diberitakan giat mengaji Al-Qur’an dan
menekuni ilmu-ilmu agama. Kajian-kajian ilmiah keagamaan juga terbuka lebar di
Maroko.
Universitas Islam
berkembang baik dan mengundang siapa saja yang ingin mempelajari Islam
seluas-luasnya. Beberapa mahasiswa Indonesia tercatat turut belajar di Maroko
yang tersebar di beberapa Universitas, seperti Universitas Malik Sa’di, di
Tetouan-kota kelahiran Ibnu Batutah, 294 km dari Rabat, dan Universitas
Qurawiyyin, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di dunia yang berdiri
sejak tahun 857 Masehi. Universitas Qurawiyyin memiliki empat kampus yang
tersebar di empat kota. Kampus utama berada di kota Fes, kota ulama dan kota
pelajar Maroko, berjarak sekitar 198 km timur Rabat. Kampus Fes berdekatan
dengan makan Syaikh Muhammad Shonhaji.
Sebagian mahasiswa
Indonesia juga belajar di Universitas Muhammad V dan Hasaniyyah di Rabat, dua
kampus yang cukup bergengsi. Di kampus Universitas Muhammad V itulah terdapat
para pemikir Islam yang sudah mendunia di masa sekarang ini, yakni Fatima
Mernissi, Abdel Al Jabiri dan ‘Ahmed Raisuni. Gedung kampus Universitas
Muhammad V bertebaran di kota Rabat.
Eva Hudzaifah
Ekonomi
di Maroko
Maroko walaupun
terletak di benua Afrika, alamnya tak jauh berbeda dengan wilayah asia yang
subur dan hijau, sehingga seringkali pelancongan dari manca Negara tercengang
melihat kesuburan tanah Maroko yang dipenuhi dengan pepohonan dan penghijauan
di segenap wilayah. GDP tahun 2010, mencapai US $ 103,5 milyar dan GDP
perkapita US $ 4.800, dengan ekspor utama phospat, pupuk alam/kimia, asam phospat, buah sitrus, sardine, produk
garmen, produk kelautan.
Sejak dipimpin Raja
Muhammed Maroko mengalami kemajuan pesat. Pertumbuhan ekonomi Maroko semakin membaik. Maroko adalah negara yang stabil dan aman dengan fasilitas yang
menarik untuk setiap calon investor yang serius. Negara Maroko yang biasa
disebut dengan Negara matahari terbenam ini mengalami pembaikan ekonomi di
tahun 2012.
Rabat-Maroko selain
mereformasi politiknya, Raja Muhammed bertekad membawa ekonomi Maroko kearah
yang lebih baik lagi. Reformasi konstitusi dan penyelenggaraan pemilu
legislatif yang adil dan transparan. 9 Februari lalu Raja Muhammed meresmikan
kawasan luas industri di Tangier yang diluncurkan oleh Renalut.
Artikel yang ditulis
oleh Said Temsamani dari Morocco World News Morocco World menjelaskan bahwa,
lokasi baru yang terletak di sebidang tanah 300 hektar, di Zona ekonomi khusus
dari Tangier akan mencakup pabrik perakitan dengan akses ke pelabuhan Tangier
med.
Misi utama lokasi baru
adalah “untuk melengkapi pembuatan ekonomi kendaraan Renault”. Hal ini
memberikan dorongan signifikan terhadap ekonomi Maroko. Raja Muhammed tahu
pasti bahwa reformasi politik tidak peduli betapa pentingnya mereka, harus
benar disertai dengan kesepakatan ekonomi utama yang akan berdampak positif langsung
pada rakyatnya.
Dia selalu focus pada pembangunan
ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, terutama untuk pemuda Maroko. Oleh karena
itu mega proyek ini diprakarsai oleh Renault akan berdampak positif pasar kerja
Maroko, dan akan menciptakan ribuan pekerja langsung dan tidak langsung.
Tidak diragukan lagi Maroko
telah dilakukan baik secara ekonomi dan telah melihat indicator sosialnya membaik,
tentu saja investor asing kini lebih memilih untuk berinvestasi di Maroko dari pada
di Negara lain di kawasan itu.
Ibnu
Aziz Islamoreza
Politik di Maroko
Maroko merupakan
kerajaan konstitusional dengan parlemen yang dipilih oleh rakyat dalam sebuah
pemilihan umum. Raja Maroko dengan kekuasaan eksekutif dapat membubarkan
pemerintah dan mengerahkan pasukan militer. Partai oposisi dibenarkan secara
hukum, dan beberapa di antaranya berdiri dalam beberapa tahun terakhir.
Sistem politik
Maroko berada dalam kerangka kerja parlementer kerajaan konstitusional, dimana
Perdana Menteri menjadi kepala pemerintahan yang dibentuk oleh sejumlah partai
(multi-partai). Kekuasaan eksekutif dimiliki oleh pemerintah. Sementara
kekuasaan legislatif dibagi bersama antara Pemerintah dan dua kamar di
parlemen, yakni Dewan Perwakilan Rakyat Maroko dan Dewan Konsuler.
Hal lain yang
penting dalam sistem politik Maroko adalah penegasan yang ada di dalam
Konstitusi Maroko bahwa Maroko adalah sebuah Kerajaaan dengan Parlemen dan
Pengadilan yang independen. Konstitusi memberikan kekuasaan yang besar kepada
Raja. Di sisi lain Raja juga memiliki dua tugas penting, sebagai pemimpin
politik sekuler dan Pemimpin Keyakinan sebagai keturunan langsung dari Nabi
Muhammad SAW.
Raja memimpin
Dewan Menteri dan menunjuk Perdana Menteri mengikuti hasil pemilihan
legislatif. Dengan rekomendasi Perdana Menteri, Raja menunjuk anggota
pemerintahan atau kabinet. Di dalam Konstitusi juga disebutkan bahwa Raja dapat
memberhentikan menteri kapan saja. Juga disebutkan bahwa Raja dapat membubarkan
Parlemen setelah melakukan konsultasi dengan pimpinan kedua kamar di Parlemen,
menunda Konstitusi, menggelar pemilihan umum baru, atau menerbitkan dekrit.
Namun hal itu baru sekali terjadi, yakni pada tahun 1965.
Raja juga
bertindak sebagai panglima tertinggi Angkatan Bersenjata. Raja Hassan II
berkuasa menggantikan ayahnya yang meninggal pada tahun 1961. Setelah
memerintah Maroko selama 38 tahun, Raja Hassan meninggal dunia di tahun 1999.
Kekuasaannya pun dilanjutkan oleh Raja Muhammad V yang disumpah pada bulan Juli
1999. Dalam pemilihan umum yang digelar tahun 1998, pemerintahan koalisi dipimpin
Abderrahmane Youssoufi yang merupakan ketua kubu oposisi sosialis. Kabinet yang
dibentuknya pun terdiri dari mayoritas anggota partai oposisi.
Pemerintahan
Youssoufi' adalah pemerintahan pertama di Maroko yang diisi oleh tokoh-tokoh
oposisi dan juga merupakan pemerintahan pertama yang dibentuk dari koalisi
sosialis, kelompok kiri-tengah, dan nasionalis, dan dilibatkan dalam
pemerintahan sampai Oktober 2002. Itu juga merupakan pertama kalinya dalam
sistem politik Arab modern dimana kelompok oposisi dapat memimpin.
Mawar Septiani Dewi
Kebudayaan di Maroko
Maroko adalah negara yang terletak di tepi Selat Gibraltar.
Yaitu, selat yang menjadi perbatasan antara Benua Afrika dan Benua Eropa. Hal
ini memengaruhi bidang kehidupan sosial dan budaya Maroko.
Maroko
termasuk negara yang kaya akan budaya. Sebab, negara ini menjadi tempat
pertemuan budaya dari berbagai macam bangsa. Yaitu, dari daerah timur (Benua
Asia) yang meliputi kebudayaan bangsa Punisia, Tunisia, Yahudi, dan Arab. Sedangkan
dari utara (Benua Eropa), ada bangsa Romawi, Vandal (Jerman), dan Andalusia
(Spanyol). Dari daerah selatan, ada kebudayaan y ang berasal dari wilayah gurun
Sahara.
Kekayaan
budaya di Maroko ini turut memengaruhi beberapa bangunan yang ada di sana.
Salah satunya, Masjid Hassan II. Masjid ini terletak di Kota Casablanca dan
menjadi masjid terbesar kedua di dunia (setelah Masjid Al-Haram di Mekkah, Arab
Saudi). Rancangan bangunan masjid ini mendapat pengaruh dari arsitektur
Spanyol.
Penduduk
(Suku Bangsa)
Mayoritas
penduduk di Maroko adalah suku bangsa Berber. Yaitu, suku asli yang tinggal di
wilayah Afrika bagian utara. Bangsa Arab menjadi penduduk kedua terbanyak di
sana. Bangsa Arab itu datang dari Benua Asia. Mereka pertam a kali ke Maroko
pada A bad ke-17. Lalu, mereka menetap dan menikah dengan masyarakat setempat.
Dan, melahirkan keturunan campuran antara Berber dan Arab. Keturunan campuran
ini sering disebut sebagai bangsa Berber Arab.
Sastra
Karya
sastra Maroko tertulis dalam beberapa bahasa. Yaitu, bahasa Arab, Berber, dan
Prancis. Karya sastra ini dibuat oleh para penulis terkenal Maroko. Antara
lain, Mohamed Zafzaf (1942–2001) dan Mohamed Choukri (1935–2003). Keduanya
membuat karya sastra dalam bahasa Arab. Ada pula Driss Chraibi (1926–2007) dan
Tahar Ben Jelloun (64). Mereka berdua membuat karya sastra yang ditulis dalam
bahasa Prancis.
Musik
Musik tradisional yang terkenal di
Maroko adalah Chaabi. Musik ini terdiri dari berbagai macam jenis musik
tradisional Maroko. Semula Chaabi hanya dipertunjukkan di pasarpasar
tradisional saja. Tetapi sekarang, Chaabi juga dipertunjukkan di dalam perayaan
atau pertemuan penting lainnya.
Sama
seperti di Indonesia, kaum muda di Maroko juga mengenal musik-musik khas negara
Barat. Beberapa jenis musik Barat yang terkenal di sana adalah rock, metal,
country, dan hip hop.
Makanan
Tradisional
Makanan tradisional warga Maroko
adalah makanan suku Berber. Antara lain, bourjeje atau kue dadar yang terbuat
dari tepung terigu, telur, ragi, dan garam. Lalu, ada bouchiar atau roti wafer
yang dimakan dengan mentega dan madu.
Jika
dalam perayaan atau pesta tertentu, warga Maroko akan memakan couscous. Yaitu,
makanan dari tepung gandum. Saat menyantapnya, biasanya makanan ini dicampur
dengan bahan lain, seperti sayuran dan daging. Seluruh bahan dimasak dengan
cara direbus.
Secara
umum, masakan tradisional Maroko terasa agak pedas. Penduduk Maroko memang
gemar menggunakan paprika, bawang, jahe, dan lada saat memasak makanan. Untuk
minuman, warga Maroko menyukai teh hijau yang dicampur dengan daun mint. Teh
ini biasanya diminum dengan gula batu.
Husna Nadiyya
Sejarah Pendidikan di Maroko
Sejarah pendidikan di Maroko tidak dapat
dipisahkan dari sejarah kedatangan Islam di negeri ini, bahkan dari sejak
adanya perkampungan penduduk asli Maroko. Sebagaimana disebutkan sejarah, Islam masuk ke Maroko sejak abad pertama hijriah, yang kemudian
ditindaklanjuti dengan pembukaan kota Andalus, sebagai pusat kekuatan Islam di
Eropa kala itu.
Dalam menyukseskan program wajib belajar, pemerintah Maroko membangun asrama dan memberikan fasilitas transportasi serta beasiswa bagi mahasiswa. Fasilitas-fasilitas tersebut, walaupun sementara ini belum dinikmati seluruh mahasiswa karena keterbatasan daya tampung, dan masih memakai skala prioritas untuk mahasiswa yang berprestasi baik dan tidak mampu, namun sudah dapat mencerminkan sebagai suatu perhatian yang dapat dibanggakan di antara negara dunia ketiga.
Peranan Raja Hassan II (wafat pada 23 Juli 1999) tidak dapat dipisahkan dari sistem modernisasi manajemen pendidikan di Maroko. Hal ini tercermin dari berdirinya berbagai universitas dan lembaga pendidikan di masa kekuasaannya. Salah satu bentuk motifasi belajar yang masih dapat diingat adalah petuahnya yang mengatakan bahwa buta huruf bukanlah ketidakmampuan membaca dan menulis, melainkan ketidakmampuan berkomunikasi dengan dunia luar, atau dengan kata lain tidak menguasai bahasa asing.
Perhatian dan motifasi belajar ini diteruskan oleh penggantinya, Raja Mohamed VI yang sekarang ini giat mencanangkan program pemberantasan buta huruf serta reformasi di segala jenjang pendidikan. Seruan pemberantasan buta huruf demi pembangunan bangsa dimuat secara terus menerus dalam media cetak dan elektronik, guna menggalang minat belajar baik di kalangan muda maupun kaum tua yang belum sempat menikmati bangku sekolah.
Al-Qurawiyin Sekarang
Universitas al-Qurawiyin sebagai universitas negeri, dengan Mahasiswa dari berbagai negara, kini mempunyai empat kampus. Kampus utamanya berada di kota Fes, kota ulama dan kota pelajar Maroko, kampus kedua terletak di kota Tetouan, dekat perbatasan Maroko–Spanyol, kampus tiga terletak di kota Aqadir, wilayah Maroko yang di dalamnya banyak lahan pertanian dan peternakan. Dan kampus keempat berada di kota Marakes, kota wisata Maroko. Adapun gedung rektoratnya berada di kecamatan Dahrul Mehraj, kota Fes, berdampingan dengan universitas Sidi Abdullah dan Universitas Malik as-Sa’di.
Sistem dan Jenjang Pendidikan
Pada dasarnya, jenjang pendidikan di Maroko tidak jauh berbeda dengan sistem pendidikan yang ada di negara lain, yaitu dapat dibagi kepada dua bagian:
1. Pendidikan Dasar dan Menengah
Pendidikan Dasar dan Menengah terbagi atas dua jenjang pendidikan, yaitu:
A. Pendidikan Dasar (Ta’lim Asasi) dengan sembilan tahun masa belajar, yang terdiri dari:
1. Ibtidaiyah (Sekolah Dasar) selama enam tahun.
2. I’dadiyah (Sekolah Menengah Pertama) selama tiga tahun.
B. Pendidikan Menengah Tingkat Atas yang ditempuh selama tiga tahun.
Pada jenjang ini, terdapat dua jurusan, yaitu:
1. ‘Ilmi (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam)
2. Adabi (Ilmu Sosial dan Bahasa)
2. Pendidikan Tinggi
Pendidikan Tinggi terbagi kepada tiga program, yaitu:
a. Strata 1(Undergraduate).
Program ini semula ditempuh dalam masa empat tahun termasuk penulisan skripsi dengan bimbingan seorang dosen. Mulai tahun 2004, diterapkan peraturan baru menjadi tiga tahun.
b. Strata 2 (program S2).
Untuk program strata 2 ada dua program yaitu:
1. Program D.E.S.S (Diplome des Etudes Superieur Specialité)
2. Program D.E.S.A (Diplome des Etudes Superieur Approfondis)
c. Strata 3 (Program S3).
Dalam Program Strata 3 atau Program Doktoral, mahasiswa harus menyiapkan Disertasi yang dibimbing salah seorang dosen dalam masa antara tiga sampai lima tahun.
Jurusan yang ada pada Program Starata 2 dan Strata 3 umumnya tidak permanen dan selalu berubah sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Metode Pendidikan Perguruan Tinggi
Secara singkat, sistem pendidikan universitas al-Qurawiyien, atau perguruan tinggi lainnya di Maroko, semuanya menekankan kepada pemahaman tekstual, hafalan dan analisa. Bagi Program SI dan S2 wajib mengikuti setiap jam kuliah, karena absensi berpengaruh terhadap kelulusan. Bagi program SI dan S2 ini, setiap minggu para dosen selalu memberi tugas rutin kepada mahasiswa untuk membuat karya tulis. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem paket, bukan semester, sehingga jika seorang mahasiswa tidak lulus dalam satu mata kuliah, maka dia dianggap gugur dan wajib mengulang semua mata kuliah. Namun sejak tahun 2003, diterapkan sistem semester.
Prospek Pendidikan
Prospek pendidikan di Maroko tidak dapat dipisahkan dari peran pemerintah setempat dalam menggalang program wajib belajar serta penyediaan sarana dan prasarana dengan anggaran yang memadai, sebagai negara yang giat menggalakkan program pencerdasan bangsa. Popularitas Maroko di bidang pendidikan untuk mahasiswa asing belum setingkat Mesir atau negara-negara di Eropa. Hal itu kita lihat dari jumlah mahasiswa asing yang ada di Maroko yang belum melampaui angka 4000. Namun jika kita memandang secara obyektif, hal itu bukan karena mutu pendidikan yang kurang baik, karena banyak aspek positif yang barangkali tidak didapatkan di negara lain, misalnya: Beasiswa, Bahasa, Tempat Tinggal.
Dalam menyukseskan program wajib belajar, pemerintah Maroko membangun asrama dan memberikan fasilitas transportasi serta beasiswa bagi mahasiswa. Fasilitas-fasilitas tersebut, walaupun sementara ini belum dinikmati seluruh mahasiswa karena keterbatasan daya tampung, dan masih memakai skala prioritas untuk mahasiswa yang berprestasi baik dan tidak mampu, namun sudah dapat mencerminkan sebagai suatu perhatian yang dapat dibanggakan di antara negara dunia ketiga.
Peranan Raja Hassan II (wafat pada 23 Juli 1999) tidak dapat dipisahkan dari sistem modernisasi manajemen pendidikan di Maroko. Hal ini tercermin dari berdirinya berbagai universitas dan lembaga pendidikan di masa kekuasaannya. Salah satu bentuk motifasi belajar yang masih dapat diingat adalah petuahnya yang mengatakan bahwa buta huruf bukanlah ketidakmampuan membaca dan menulis, melainkan ketidakmampuan berkomunikasi dengan dunia luar, atau dengan kata lain tidak menguasai bahasa asing.
Perhatian dan motifasi belajar ini diteruskan oleh penggantinya, Raja Mohamed VI yang sekarang ini giat mencanangkan program pemberantasan buta huruf serta reformasi di segala jenjang pendidikan. Seruan pemberantasan buta huruf demi pembangunan bangsa dimuat secara terus menerus dalam media cetak dan elektronik, guna menggalang minat belajar baik di kalangan muda maupun kaum tua yang belum sempat menikmati bangku sekolah.
Al-Qurawiyin Sekarang
Universitas al-Qurawiyin sebagai universitas negeri, dengan Mahasiswa dari berbagai negara, kini mempunyai empat kampus. Kampus utamanya berada di kota Fes, kota ulama dan kota pelajar Maroko, kampus kedua terletak di kota Tetouan, dekat perbatasan Maroko–Spanyol, kampus tiga terletak di kota Aqadir, wilayah Maroko yang di dalamnya banyak lahan pertanian dan peternakan. Dan kampus keempat berada di kota Marakes, kota wisata Maroko. Adapun gedung rektoratnya berada di kecamatan Dahrul Mehraj, kota Fes, berdampingan dengan universitas Sidi Abdullah dan Universitas Malik as-Sa’di.
Sistem dan Jenjang Pendidikan
Pada dasarnya, jenjang pendidikan di Maroko tidak jauh berbeda dengan sistem pendidikan yang ada di negara lain, yaitu dapat dibagi kepada dua bagian:
1. Pendidikan Dasar dan Menengah
Pendidikan Dasar dan Menengah terbagi atas dua jenjang pendidikan, yaitu:
A. Pendidikan Dasar (Ta’lim Asasi) dengan sembilan tahun masa belajar, yang terdiri dari:
1. Ibtidaiyah (Sekolah Dasar) selama enam tahun.
2. I’dadiyah (Sekolah Menengah Pertama) selama tiga tahun.
B. Pendidikan Menengah Tingkat Atas yang ditempuh selama tiga tahun.
Pada jenjang ini, terdapat dua jurusan, yaitu:
1. ‘Ilmi (Ilmu Pasti dan Ilmu Alam)
2. Adabi (Ilmu Sosial dan Bahasa)
2. Pendidikan Tinggi
Pendidikan Tinggi terbagi kepada tiga program, yaitu:
a. Strata 1(Undergraduate).
Program ini semula ditempuh dalam masa empat tahun termasuk penulisan skripsi dengan bimbingan seorang dosen. Mulai tahun 2004, diterapkan peraturan baru menjadi tiga tahun.
b. Strata 2 (program S2).
Untuk program strata 2 ada dua program yaitu:
1. Program D.E.S.S (Diplome des Etudes Superieur Specialité)
2. Program D.E.S.A (Diplome des Etudes Superieur Approfondis)
c. Strata 3 (Program S3).
Dalam Program Strata 3 atau Program Doktoral, mahasiswa harus menyiapkan Disertasi yang dibimbing salah seorang dosen dalam masa antara tiga sampai lima tahun.
Jurusan yang ada pada Program Starata 2 dan Strata 3 umumnya tidak permanen dan selalu berubah sesuai dengan kebutuhan yang ada.
Metode Pendidikan Perguruan Tinggi
Secara singkat, sistem pendidikan universitas al-Qurawiyien, atau perguruan tinggi lainnya di Maroko, semuanya menekankan kepada pemahaman tekstual, hafalan dan analisa. Bagi Program SI dan S2 wajib mengikuti setiap jam kuliah, karena absensi berpengaruh terhadap kelulusan. Bagi program SI dan S2 ini, setiap minggu para dosen selalu memberi tugas rutin kepada mahasiswa untuk membuat karya tulis. Awalnya, sistem yang digunakan adalah sistem paket, bukan semester, sehingga jika seorang mahasiswa tidak lulus dalam satu mata kuliah, maka dia dianggap gugur dan wajib mengulang semua mata kuliah. Namun sejak tahun 2003, diterapkan sistem semester.
Prospek Pendidikan
Prospek pendidikan di Maroko tidak dapat dipisahkan dari peran pemerintah setempat dalam menggalang program wajib belajar serta penyediaan sarana dan prasarana dengan anggaran yang memadai, sebagai negara yang giat menggalakkan program pencerdasan bangsa. Popularitas Maroko di bidang pendidikan untuk mahasiswa asing belum setingkat Mesir atau negara-negara di Eropa. Hal itu kita lihat dari jumlah mahasiswa asing yang ada di Maroko yang belum melampaui angka 4000. Namun jika kita memandang secara obyektif, hal itu bukan karena mutu pendidikan yang kurang baik, karena banyak aspek positif yang barangkali tidak didapatkan di negara lain, misalnya: Beasiswa, Bahasa, Tempat Tinggal.
Syifa
Fauziah (zizi)
Hukum di Maroko
Maroko adalah negara kerajaan yang berkonstitusi dan demokratis seperti
yang tertera dalam undang-undang dasar negara Maroko. Maroko juga menganut
sistem multipartai politik dan menolak sistem satu partai. Islam adalah agama
negara. Hak-hak dasar warganegara baik laki-laki maupun perempuan juga
terjamin. Hukum adalah pernyataan tertinggi dari keinginan rakyat dan
seluruhnya harus tunduk kepadanya. Akan tetapi hukum di Maroko tidak
menggunakan hukum syariah, dan bahkan lebih diwarnai oleh sistem hukum Barat.
Hukum Islam yang dipakai adalah madzhab maliki, akan tetapi itu juga hanya
berlaku untuk umat Islam dan hanya dalam bidang-bidang tertentu, yakni
perkawinan, warisan dan perwakafan.
Al-mamlakah al-maghribiyah al-ashriyah, Maroko modern, adalah negara
islam yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Allaasi dengan konsep
neo-salafiyahnya, islam Maroko diwarnai oleh sejumlah besar marrabut dan Suffi.
Sistem kerajaan Maroko adalah monarki konstitusional demokratis, yaitu
kedaulatan berada di tangan bangsa yang disalurkan melalui lembaga
konstitusional yang telah ada. Sistem pemerintahan aMaroko selengkapnya sebagai
berikut: raja adalah Amirul Mukminin, bukan khalifah Allah SWT.
Kekuasaan raja dibatasi oleh konstitusi, lembaga
tertinggi adalah majelis perwakilan, dewan penasihat. Dahir, UU negeri itu
disahkan pada 2 juni 1961 yang berisi dasar hukum Maroko. Beberapa pasal dari
UUD nya yang berkaitan dengan sistem Maroko adalah sebagai berikut:
Pasal 1: Maroko
adalah negara kerajaan konstitusional demokratis, dan social.
Pasal 2:
kedaulatan adalah milik bangsa dan
dilaksanakan dalam bentuk referendum, tidak langsung melalui saluran
konstitusional.
Pasal 3: partai politik itu
harus berpartisipasi dalam organisasi dan pengelolaan negara.
Pasal 4: UU (Qanun) didasarkan
pada keinginan rakyat, dan seterusnya.
Sebagaimana diketahui bahwa antara tahun 1912 sampai tahun 1956, wilayah
Maroko dibawah dominasi politik Prancis. Secara umum wilayah tersbeut banyak
dipengaruhi oleh sistem hukum yang diterapkan kedua negara tersebut. Namun
demikian, hukum privat yang berdasarkan syariat islam masih tetap dijunjung
tinggi oleh umat islam Maroko. Hukum privat yang di terapkan menganut corak dan
sistem hukum madzhab maliki.
Secara umum, sistem hukum di Maroko dibagi menjadi 4 macam badan
peradilan, mahkamah Syariah dan mahkamah Madaniyah (peradilan umum), hukum
kanomik, dan civil law Prancis. Bersamaan dengan diberlakukannya hukum islam di
lembaga pengadilan syariat, diterapkan pula hukum adat di beberapa negara
bagian Maroko yang diatur oleh pengadilan setempat. Pada aspek-aspek tertentu
pemberlakuan hukum adat dapat membawa konflik terhadap hukum islam. Hal ini
diakui oelah para ahli hukum islam Maroko yang tidak menyukai muatan-muatan
hukum Prancis dan adat setempat masuk dalam hukum privat di Maroko.
Pemodifikasian dan UU-nya hukum privat di Maroko dilakukan sesudah
negeri ini merdeka (1985). Pemberlakuan hukum keluarga di Maroko yang
berdasarkan syariat, banyak di pengaruhi oleh penggunaan hukum keluarga yang di
terapkan oleh Tunisia. Kerja keras yang dilakukan oleh ahli hukum Maroko dan
instrumen lainnya akhirnya menghasilkan beberapa draf dari kodifikasi hukum
islam. antara lain:
1. Prinsip
dan dasar pijakan keluarga yang diberlakukan (dalam hal ini adalah mazhab
Maliki)
2.
Memerhatikan aspek maslahah Mursalah.
Dari draf hukum keluarga yang disetujui oleh komisi-komisi dewan perwakilan
rakyat Maroko, tersusunlah sebuah kumpulan undang-undang hukum keluarga yang
diberi judul mudawanah al-ahwal syakhsiyah atau the code of personal status
1957-1958. Kumpulan UU ini memuat lebih dari 300 pasal yang disusun dalam 6
buku.
Buku I : tentang perkawinan disahkan
tanggal 21 -11-1957
Buku II : tentang pembatalan perkawinan
disahkan pada tanggal 21-11-1957
Buku III : tentang kelahiran anak dan akibatnya
hukuman disahkan pada 18-12-1957
Buku IV : tentang cakap hukum dan perwalian
disahkan pada 25-1-1958
Buku V : tentang wasiat wajibah disahkan
20-2-1958
Buku VI : tentang kewarisan disahkan 3-4-1958
Sedangkan hukum keluarga di Maroko yang awalnya
hanya diambil dari kitab fiqh dan bermazhab maliki, terjadi pebaharuan
pembaharuan. Jika dicermati dari segi sifatnya, reformasi hukum privat yang
dilakukan oleh pemerintahan Maroko masuk dalam kategori intra-doctrinal-reform,
yakni reformasi hukum keluarga islam yang dilakukan dengan menggabungkan
pendapat mazhab atau mengambil pendapat lain selain mazhab utama yang dianut.
Berikut hukum keluarga yang diatur: usia dalam perkawinan, poligami, peran wali
dan kebebasan mempelai wanita, pencatatan perkawinan, proses perceraian, serta
hukum warisan.
Rihlatusyifa
Teknologi di Negara
Maroko
Tidak
seperti negara-negara lain di Afrika Utara yang tengah berjuang keras agar bisa
selamat dari badai revolusi yang menghumbalang kawasan itu sejak awal tahun
ini, Kerajaan Maroko tengah menikmati buah demokrasi di negeri itu. Pembangunan
fisik dan infrastruktur terus dilakukan untuk menopang pengembangan wilayah
khususnya di utara dan selatan. Raja Muhammad
VI ditemani Pangeran Moulay Rachid dan Pangeran Megren Bin Abdulaziz Al-Saud
bersama Raja Prancis Nicolas Sarkozy meresmikan stasiun kereta Tangier-Ville.
Pemerintah Prancis terlibat aktif dalam pembangunan ini.
Ini adalah stasiun
kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan Tangier dan Kasablanka senilai
1,8 miliar euro. Maroko menjadi negara Afrika pertama yang memiliki teknologi
kereta api cepat. Diharapkan jaringan kereta api cepat ini dapat menyentuh
semua kawasan di Maroko. Menteri Transportasi Karim Ghellab dalam peresmian
pembangunan itu mengatakan, kereta api cepat Tangier-Kasablanka memberikan
kontribusi yang sangat signifikan terhadap perkembangan dan peningkatan
transpotasi di Maroko umumnya. Stasiun Tangier-Kasablanka adalah langkah
pertama dari rencana besar membangun jaringan kereta yang menghubungkan poros
Atlantik Tangier-Kasablanka-Marakesh-Agadir dan Rabat-Fez-Oujda sepanjang 1.500
kilometer. Master pembangunan rute Tangier-Kasablanka dirancang sejak 2006 dan
diharapkan selesai pada 2015.
Di bidang kelistrikan, Maroko
ber-upaya mengembangkan sejumlah energi alternatif seperti energi angin dan
tenaga surya guna menopang dan memenuhi kebutuhan listrik di negara
tersebut. Raja Muhammad VI pada dasarnya sangat menyadari bahwa negara tersebut
tidak memiliki sumber daya energi fosil seperti minyak dan gas yang melimpah
seperti negara-negara di kawasan Timur Tengah pada umumnya. Tak heran
kalau energi alternatif menjadi pilihan yang paling rea-listis dikembangkan di
Maroko.
Untuk mengembangkan energi surya,
Maroko berkomitmen untuk membangun pusat pembangkit listrik tenaga surya
terbesar di dunia yang mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 2 gigawatt
(GW) atau 2 ribu megawatt (MW). Targetnya, pembangkit listrik tenaga
surya (PLTS) tersebut bisa selesai dibangun pada 2020 mendatang. Pemerintah
Maroko, rencananya akan membangun lima titik PLTS yang masing-masing berlokasi
di Laayoune dan Boujdour di Sahara, Tarfaya di Selatan Agadir, Ain Beni Mathar
di kawasan tengah dan Ouarzazate. PLTS berkekuat-an 2 GW tersebut bukan
hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik Maroko semata, namun lebih
jauh lagi, PLTS tersebut diharapkan dapat meme-nuhi sekitar 15 persen
konsumsi listrik di negara-negara Eropa.
Pada tahap awal, PLTS pertama akan
dibangun di Ouarzazate. Waktu itu, Raja Muhammad VI yang langsung melakukan
penandatanganan dokumen pembiayaan, pembangunan dan manajemen stasiun
pembangkit listrik Ouarzazate. Sejumlah pihak menilai, pembangunan PLTS di
Ouarzazate tersebut merefleksikan semangat sang Raja dalam mengembangan energi
terbarukan di negeri itu. Investasi PLTS Ouarzazate diperkirakan memakan biaya
hingga 7 miliar dirhams atau sekitar 800 juta dollar AS lebih.
Satu hal penting dari pembangunan
pembangkit listrik tersebut adalah soal kemandirian energi negara tersebut.
Selain itu tentunya juga soal pengimplementasian proyek skala besar energi
terbarukan yang merupakan bagian dari strategi energi Maroko. Pembangkit
listrik tenaga surya juga solusi mengenai tantangan keamanan energi, perlidungan
lingkung-an hidup dari penggunaan energi bersih, dan pembangunan listrik
berkelanjutan di Maroko.
Soal kemandirian energi, pada dasar-nya telah lama menjadi
perhatian dari pemerintah Maroko. Apalagi pada masa 1980-an lalu, sebagian
wilayah Maroko masih bertumpu pada suplai dari listrik Spanyol. Alhasil, jika
saat Spanyol yang dulunya menjajah Maroko kembali bermasalah, maka boleh jadi
Spanyol dapat menghentikan pasokan listrik ke Maroko yang dapat berakibat
kerugian dalam jumlah yang tidak kecil. Sejumlah kerjasama dengan beberapa
negara memang terus dilakukan Maroko untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka.
Sejak dua tahun lalu, Maroko dan Inggris memiliki komitmen kerjasama
dalam pengembangan PLTS di Maroko. Kerjasama sejenis juga dilakukan Maroko dengan
Jepang. Pada 2010 lalu, Jepang sempat mengucurkan sumbangan senilai 7,4 juta
dolar AS ke Maroko untuk menciptakan proyek energi yang bersih dengan
menggunakan sistem tenaga matahari photovoltaic. Bantuan tersebut diharapkan
bisa membuat maroko memiliki sistem tenaga matahari photovoltaic pertama dan
terbesar di Afrika.
Hafizan
A
Keamanan dan Pertahanan di Maroko
Dinas
Keamanan Maroko Siaga Penuh Hadapi Ancaman Teroris
Pemerintah
Maroko menyiagakan secara penuh dinas keamanan negara ini karena
mengkhawatirkan ancaman teroris.
Reuters
melaporkan, keputusan ini diambil pasca sidang delegasi pemerintah hari Jumat
(11/7) dan menyusul laporan dari dinas intelijen terkait ancaman serius
terorisme, khususnya warga negara ini yang pulang dari berperang di Suriah dan
Irak.
Berdasarkan
statemen yang dirilis pasca sidang mingguan dewan kabinet Maroko, ancaman ini
berkaitan erat dengan sejumlah besar warga Maroko yang menjadi anggota kelompok
teroris di Suriah dan Irak.
"Kebanyakan
teroris termasuk komandan mereka tidak menutupi keinginan mereka untuk
melakukan serangan teror di Maroko," tambah statemen tersebut.
Negara-negara
Afrika utara dilanda kekhawatiran akan keberadaan ratusan teroris dari Maroko
dan negara lain seperti Tunisia serta Aljazair yang menjadi anggota aktif
kelompok teroris di Suriah dan Irak. Negara-negara ini khawatir jika warga yan
menjadi anggota kelompok teroris setelah pulang ke negaranya akan melakukan
aksi teror.
Warga
Maroko yang bergabung dengan kelompok teroris di laman sosial mereka menyatakan
berencana menggulingkan pemerintahan Raja Muhammad VI dan y alih pemerintahan
setelah mereka pulang ke negara ini. (IRIB Indonesia/MF)
Bahas
Keamanan Timteng Komisi I DPR ke Maroko
"Kami
menghadiri undangan untuk berdiskusi tentang perkembangan Timteng pasca Arab
Spring.
Demonstran
penentang pemerintah Suriah
Anggi
Kusumadewi, Mohammad Adam | Senin,
7 November 2011, 11:40 WIB
VIVAnews
– Komisi I DPR yang membidangi sektor pertahanan dan luar negeri, berkunjung ke
Maroko selama masa reses ini. Kunjungan itu untuk membahas isu keamanan kawasan
Timur Tengah. Timur Tengah menjadi sorotan dunia setelah banyak negara di
kawasan tersebut dilanda gerakan revolusioner untuk menumbangkan pemimpin
mereka yang telah lama berkuasa.
“Kunjungan
12 orang anggota Komisi I ke Maroko adalah dalam rangka menghadiri undangan
Kementerian Luar Negeri dalam Forum Group Discussion tentang Perkembangan Timur
Tengah dan Afrika Utara pasca ‘Arab Spring,’” kata Wakil Ketua Komisi I DPR
Tubagus Hasanuddin, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, Senin 7
November 2011.
Arab
Spring adalah julukan yang diberikan terkait aksi demonstrasi dan perlawanan
rakyat di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang berakhir dengan jatuhnya rezim
berkuasa di negara-negara di kawasan tersebut. Arab Spring dimulai di Tunisia
pada Desember 2010 lalu.
Gerakan
itu dengan cepat merembet ke negara-negara tetangganya di Mesir, Libya,
Bahrain, Suriah, Yaman, Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, dan Oman. Rezim lama
di Tunisia, Mesir, dan Libya, telah tumbang karena gerakan ini.
Selain
membahas isu keamanan Timur Tengah pasca Arab Spring, Komisi I DPR juga membahas
peluang dagang di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. “Perkembangan isu
strategis kawasan, serta peluang ekonomi di kawasan terkait, juga menjadi
perhatian,” ujar Tubagus.
Forum
Discussion Group di Maroko yang dihadiri oleh Komisi I DPR itu, terang Tubagus,
juga dihadiri oleh 22 kepala perwakilan negara atau Duta Besar, baik dari RI
maupun dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Forum ini berlangsung dari
tanggal 1-6 November 2011.
Rombongan
Komisi I yang ikut dalam kunjungan ke Maroko, kata Tubagus, antara lain adalah
Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq, Wakil Ketua Komisi I Agus Gumiwang Kartasasmita,
dan anggota Komisi I Tantowi Yahya, Yorrys Raweyai, M. Fayakun, M. Najib, serta
Effendi Choirie.






